Perjalanan Panjang Pemuda Swedia untuk Ikut Perjuangkan Kemerdekaan Palestina

Kabar Islam

Seorang diri, sembilan bulan, dan 3.000kilometer menuju perdamaian, Benjamin Ladraa (25 tahun) dari Swedia telah berjalan ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran tentang penindasan yang dialami warga Palestina di bawah rezim pendudukan Israel.

Dia memulai protesnya pada 5 Agustus dan menolak untuk berhenti berjalan atau menyerah.

Ladraa telah menjadi aktivis untuk waktu yang lama, tetapi setelah tiga pekan perjalanan ke Palestina tahun lalu ia memutuskan untuk memulai protesnya dalam skala yang lebih besar.

Sebagai aktivis hak asasi manusia, Ladraa menggarisbawahi bahwa sulit untuk mengabaikan apa yang terjadi di Palestina.

“Semakin Anda tahu (apa yang terjadi di Palestina) semakin sedikit pilihan yang Anda miliki jika Anda benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Anda memiliki tanggung jawab moral untuk juga menjadi bagian dari perubahan. Anda tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di Palestina dan kemudian mengabaikannya dan menjadi seorang manusia bermoral mulia pada saat yang sama,” kata Ladraa kepada Daily Sabah pekan lalu.

Sepanjang perjalanannya, Ladraa telah bertemu ratusan orang, menghabiskan waktu bersama mereka dan mengumpulkan jutaan kenangan yang kuat. Tetapi, menurut aktivis Swedia itu, bagian paling memuaskan dari protes tersebut adalah mencerahkan orang-orang tentang tragedi di Palestina dan menarik perhatian masyarakat pada masalah itu.

“Kebanyakan orang terkejut dan penasaran dan ingin tahu mengapa. Itu reaksi yang sangat baik karena kemudian percakapan mengarah pada hak asasi manusia, orang-orang Palestina, dan mengapa mereka berada di bawah pendudukan dan mengapa kita harus menjadi bagian dari perubahan,” tandasnya.

Sebuah perjalanan yang membentang sejauh 3.000 kilometer memunculkan ratusan pertanyaan di pikiran ketika seseorang sendirian dengan keyakinan dan hati nuraninya. Meskipun Ladraa menghadapi banyak kesulitan, dia tidak pernah berpikir untuk menyerah.

“Saya sudah sangat lelah, lapar dan dingin dan tidur di ruang terbuka di salju, tetapi menyerah bukanlah pilihan. Orang-orang Palestina tetap akan diduduki apakah saya mendukung mereka atau tidak. Saya pikir kita memiliki kewajiban moral sebagai manusia untuk mencoba dan menggunakan pengaruh kita dalam kapasitas penuh. Saya juga percaya bahwa orang-orang tidak benar-benar mencoba untuk menjadi kekuatan positif di dunia. Orang-orang terlalu malas dan tidak mengeksplorasi apa yang mereka mampu. Saya ingin membuat perbedaan, jadi saya saya tidak menyerah,” ujar Landraa.

Tingkat kesadaran yang sangat rendah di dunia mengenai penindasan Israel adalah perhatian utama Ladraa. Menurutnya, orang harus belajar tentang ketidakadilan dan memobilisasikan diri untuk memprotesnya. Dia dengan tegas meringkas tujuannya, mengatakan, “Tindakan adalah yang mengubah berbagai hal, bukan kata-kata.”

“Orang-orang perlu sadar untuk membuat gerakan lebih kuat. Semuanya akan menemukan jawaban ketika Palestina bebas. Maka itu akan cukup. Tapi sampai Palestina bebas, itu tidak cukup. Jadi, jelas kita punya pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Ladraa.

Menjelaskan keteguhan tindakannya, ia menghubungkan perhatiannya dengan tujuan hidup itu sendiri, bukan sekadar protes.  “Ini adalah tentang rasa tanggaung jawab dan kewajiban. Kita semua mempertanyakan makna hidup. Mengapa Anda harus aktif. … Apakah Anda hanya akan duduk dan menonton atau Anda akan melakukan sesuatu tentang hal itu?” dia bertanya.

Gerakan sosial dibentuk melawan penindasan oleh orang-orang yang berpikir bahwa mereka dikendalikan oleh elemen yang salah. Konflik Palestina terus berlanjut sejak 1948 ketika negara Israel didirikan. Perang-perang kekerasan antara dunia Arab dan Israel telah menyaksikan puluhan konflik bersama dengan masalah diplomatik.

Pria 25 tahun ini mendukung perjuangan rakyat Palestina yang telah melalui penderitaan nyata ketika negara-negara penjajah mencoba menyalahgunakan tuntutan mereka yang sah. Dia mengkritik Israel dan Amerika Serikat karena menjadi pelaku utama kejahatan ini dan Eropa karena menjadi pengecut.

“Seperti pemerintah AS dan Israel yang melakukan kejahatan terhadap rakyat Palestina, pemerintah di Eropa juga takut membicarakan hal ini karena mereka takut dicap sebagai anti-Semit. Jika Anda berbicara untuk hak-hak Palestina maka Anda juga berbicara menentang kolonialisme dan imperialisme karena AS adalah sekutu nomor satu Israel,” ia berpendapat.

Berbicara tentang pemerintah Israel, Ladraa dengan keras mengecam pelanggaran hak asasi manusia dan perlakuan mereka terhadap para pengunjuk rasa. Meskipun dia tidak yakin apakah dia akan diizinkan memasuki Palestina, dia tidak akan gentar.

“Mereka memiliki sejarah panjang tidak mengizinkan para aktivis masuk. Tidak ada yang bisa tahu apa yang mereka pikirkan atau alasan mereka. Jika mereka memilih untuk tidak mengizinkan aku masuk, dunia akan lebih jauh melihat bagaimana mereka memperlakukan aktivis hak asasi manusia. Jika mereka membiarkan aku masuk, aku akan berada di Palestina. Mereka tidak akan menyukainya,” kata dia, tersenyum bangga.

Begitu dia tiba di Palestina, protesnya tidak akan berakhir tetapi berkembang. Aktivis Swedia itu berencana untuk memulai demonstrasi lebih lanjut untuk menyuarakan pelanggaran hak asasi manusia lainnya.

“Saya akan memikirkan proyek berikutnya yang … membawa Palestina selangkah lebih dekat ke kebebasan. Saya tidak akan pernah berhenti karena perjuangan untuk hak asasi manusia tidak hanya tentang Palestina. Ini tentang masyarakat, dan ada banyak orang di dunia yang membutuhkan aktivis untuk mendukung mereka,” tandasnya.

Ketika ditanya tentang dampak yang dia pikir akan diprotes dan konsekuensi yang mungkin dari demonstrasi tersebut, aktivis 25 tahun itu tidak ragu untuk menunjukkan keyakinannya yang kuat tentang masalah yang ia bela.

“Aku benar-benar hanya bisa mencoba yang terbaik … Selama aku masih hidup. Aku tidak bisa melakukan lebih dari itu. Jika aku mencapai hasil yang positif, aku akan bahagia, dan jika aku tidak, setidaknya aku sudah mencoba ,” kata dia.

Melihat kehidupan dengan perspektif yang berbeda, melihat penderitaan dan mengambil tindakan adalah kekuatan penggerak untuk Benjamin Ladraa.

“Dunia tidak akan memperbaiki diri dengan sendirinya. Perubahan tidak datang dengan murah. Itu membutuhkan kerja keras dan jika Anda tidak mau bekerja keras, maka jangan berharap sesuatu akan berubah. Kami hanya bisa melakukannya dengan bersama-sama,” Ladraa menyimpulkan. (AT/R11/P1). Net (mirajnews.com/Wave)